Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru tidak perlu lagi menjadi “pengkhutbah” yang terus berceramah dan menjejalkan bejibun teori kepada siswa didik. Sudah bukan zamannya lagi anak diperlakukan bagai “keranjang sampah” yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu. Peserta didik perlu diperlakukan secara utuh dan holistik sebagai manusia-manusia pembelajar yang akan menyerap pengalaman sebanyak-banyaknya melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Oleh karena itu, kelas perlu didesain sebagai “masyarakat mini” yang mampu memberikan gambaran bagaimana sang murid berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kata lain, kelas harus mampu menjadi “magnet” yang mampu menyedot minat dan perhatian siswa didik untuk terus belajar, bukan seperti penjara yang mengkrangkeng kebebasan mereka untuk berpikir, berbicara, berpendapat, mengambil inisiatif, atau berinteraksi.

Saya kira tak ada seorang pun yang bisa membantah bahwa guru memiliki peran yang amat vital dalam proses pembelajaran di kelas. Gurulah yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melakukan tindak lanjut. Dalam konteks demikian, gurulah yang akan menjadi “aktor” penentu keberhasilan siswa didik dalam mengadopsi dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kehidupan hakiki.

Ketika sang guru masuk kelas dan menutup pintu, di situlah sang guru akan menjadi pusat perhatian berpasang-pasang mata siswa didiknya. Mulai model potongan rambut, busana yang dikenakan, hingga sepatu yang dipakai akan ditelanjangi habis oleh murid-muridnya. Belum lagi bagaimana gaya bicara sang guru, caranya berjalan, atau kedisiplinannya dalam mengajar. Di mata sang murid, guru seolah-olah diposisikan sebagai pribadi perfect yang nihil cacat dan cela. Itu juga makna yang tersirat dalam akronim “digugu lan ditiru” (dipercaya dan diteladani). Tidak heran kalau banyak kalangan yang berpendapat bahwa maraknya tindakan premanisme, korupsi, manipulasi, penyalahgunaan jabatan, pengingkaran makna sumpah pejabat, jual-beli ijazah, dan semacamnya, gurulah yang pertama kali dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap maraknya berbagai ulah anomali sosial semacam itu.

Harus diakui tugas guru memang berat. Mereka tidak hanya dituntut untuk melakukan aksi “lahiriah” dalam bentuk kegiatan mengajar, tetapi juga harus melakukan aksi “batiniah”, yakni mendidik; mewariskan, mengabadikan, dan menyemaikan nilai-nilai luhur hakiki kepada siswa didik. Ini jelas tugas dan amanat yang amat berat ketika nilai-nilai yang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat sudah demikian jauh merasuk dalam dimensi peradaban yang chaos dan kacau.

Ketika guru menyatakan bahwa korupsi itu haram dan melawan hukum, tetapi apa yang dilihat oleh anak-anak dalam praktik kehidupan sehari-hari? Ya, mereka bisa dengan mudah menyaksikan dengan mata telanjang betapa nikmatnya hidup menjadi koruptor. Hukum menjadi tak berdaya untuk menjerat mereka. Bahkan, mereka bisa bebas melenggang pamer kekayaan di tengah-tengah jutaan rakyat yang menderita dan terlunta-lunta akibat kemiskinan yang menggorok lehernya. Ironisnya, tidak sedikit koruptor yang justru merasa bangga ketika mereka bisa mempermainkan hukum. Jika keadaan mendesak, mereka bisa pasang jurus “sakit pura-pura”. (Kalau sakit beneran baru tahu rasa, hehehehe :mrgreen: )

Ketika guru mengajak anak-anak untuk melestarikan dan mencintai lingkungan hidup, apa yang mereka saksikan? Ya, para pembalak dan preman-preman hutan ternyata juga setali tiga uang. Hukum seolah-olah telah lumpuh dan tak sanggup menjamah mereka. Jelas-jelas sebuah kondisi yang amat bertentangan secara diametral. Nilai-nilai luhur hakiki yang disemaikan di sekolah benar-benar harus berhadapan dengan berbagai “penyakit sosial” yang telah bersimaharajalela di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Lantas, bagaimana? Haruskah guru ikut-ikutan bersikap permisif dan membiarkan anak-anak larut dalam imaji amoral dan anomali sosial seperti yang mereka saksikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat? Haruskah gambaran tentang citra koruptor dan pembalak hutan yang hidup bebas dan lolos dari jeratan hukum itu kita biarkan terus berkembang dalam imajinasi anak-anak bangsa negeri ini? Gampangnya kata, haruskah anak-anak kita biarkan bermimpi dan bercita-cita menjadi koruptor dan pembalak hutan? :mrgreen:

Tunggu dulu! Kalau proses pembelajaran berlangsung monoton dan seadanya; guru cenderung bergaya indoktrinatif dan dogmatis seperti orang berkhotbah, upaya penyemaian nilai-nilai luhur hakiki saya kira akan sulit berlangsung dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Apalagi, kalau anak-anak hanya diperlakukan sebagai objek yang pasif, tidak diajak untuk berdialog dan berinteraksi. Maka, kegagalan penyemaian nilai-nilai luhur kepada siswa didik hanya tinggal menunggu waktu. Dalam konteks demikian, guru perlu mengambil langkah dan inisiatif untuk mendesain proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Guru memiliki kebebasan untuk melakukannya di kelas. KTSP sangat leluasa memberikan kesempatan kepada guru untuk menerapkan berbagai gaya dan kreativitasnya dalam kegiatan pembelajaran.

Melalui kegiatan pembelajaran yang inovatif, atmosfer kelas tidak terpasung dalam suasana yang kaku dan monoton. Para siswa didik perlu lebih banyak diajak untuk berdiskusi, berinteraksi, dan berdialog sehingga mereka mampu mengkonstruksi konsep dan kaidah-kaidah keilmuan sendiri, bukan dengan cara dicekoki atau diceramahi. Para murid juga perlu dibiasakan untuk berbeda pendapat sehingga mereka menjadi sosok yang cerdas dan kritis. Tentu saja, secara demokratis, tanpa melupakan kaidah-kaidah keilmuan, sang guru perlu memberikan penguatan-penguatan sehingga tidak terjadi salah konsep yang akan berbenturan dengan nilai-nilai kebenaran itu sendiri.

Melalui suasana pembelajaran yang kondusif dengan memberikan kesempatan kepada siswa didik untuk bebas berpendapat dan bercurah pikir, guru akan lebih mudah dalam menyemaikan nilai-nilai luhur hakiki. Dengan cara demikian, peran guru sebagai agen perubahan diharapkan bisa terimplementasikan dengan baik. Meskipun korupsi, manipulasi, dan berbagai jenis “penyakit sosial” menyebar dan meruyak di tengah-tengah kehidupan masyarakat, melalui proses rekonstruksi konsep yang dibangunnya, anak-anak bangsa negeri ini mudah-mudahan memiliki benteng moral yang tangguh dalam gendang nuraninya sehingga pantang untuk melakukan tindakan culas yang merugikan bangsa dan negara. Nah, bagaimana? ***

Sesuai jadwal, siswa SMA/MA akan menempuh UN 2009 pada 20 s.d. 24 April 2009, sedangkan siswa SMK/SMALB akan menempuh UN dengan waktu yang sama, hanya selesai lebih awal, yakni 20 s.d. 22 April 2009. Berkenaan dengan hal tersebut, segenap pengurus MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kendal mengucapkan:

SELAMAT MENEMPUH UJIAN NASIONAL 2009
SEMOGA SUKSES, BAIK SUKSES PENYELENGGARAAN MAUPUN HASILNYA

UN sesungguhnya merupakan kegiatan rutin akhir tahun yang perlu dilakukan sebagai alat untuk mengukur kemampuan dan kompetensi siswa sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, UN jangan sampai membuat stress, apalagi depresi. Niat yang baik, belajar keras, dan doa, agaknya masih akan menjadi cara-cara klasik yang perlu dilakukan dengan penuh kesungguhan.

Semoga UN tahun ini benar-benar bisa memberikan nilai tambah buat kemajuan dunia pendidikan kita. Amiin.

Oleh: Sawali (Guru SMP 2 Pegandon, Kendal)

esam1esam2esam3esam4esam5esam6Jumat malam, 17 April 2009, yang lalu, sekolah saya mengundang Tim Esam (Emotional and Spiritual Achievement Motivation) Training. Tujuannya adalah untuk membangkitkan motivasi anak-anak agar siap secara emosional dan spiritual dalam meraih prestasi setelah teman-teman guru sudah merasa cukup menyiapkan mereka melalui ikhtiar lahiriah. Pelatihan tersebut baru pertama kalinya digelar. Ide awal bermula ketika bos Esam Tranining, Pak Sunarto yang juga Kepala SMA Rowosari, Kendal, bertemu langsung dengan kepala sekolah. Pak Narto, demikian saya biasa menyapanya, mengontak saya via telepon tentang program pelatihan itu. Konon, kepala sekolah menyerahkan sepenuhnya kepada saya tentang perlu tidaknya kegiatan semacam itu. Jujur saja, saya belum bisa mengiyakan. Saya hanya meminta kepada Pak Narto untuk mengirimkan proposalnya.

Beberapa hari kemudian, kepala sekolah memberikan proposal dari Pak Narto kepada saya. Setelah saya pelajari, agaknya model pelatihan semacam itu memang diperlukan sebagai ikhtiar batiniah agar anak-anak benar-benar dalam kondisi siap untuk menghadapi UN. Setelah melalui berbagai diskusi dengan teman-teman, akhirnya disepakati untuk menggelar pelatihan. Saya pun melakukan konfirmasi kepada Pak Narto hingga akhirnya pelatihan benar-benar digelar di lapangan terbuka itu.

Setelah melakukan shalat Maghrib berjamaah, doa bersama, dan shalat Isya’ berjamaah, acara pelatihan pun dimulai pukul 20.30 WIB. Berdasarkan pengamatan awam saya, pelatihan ini memang menggunakan pendekatan psikologis yang berupaya memberikan “shock therapy” kepada anak-anak agar mereka sanggup menghadapi UN dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Diawali dengan membawa imajinasi anak-anak ke dunia mimpi tentang harapan dan cita-cita, sekitar 221 anak yang mengikuti pelatihan ini kemudian dibawa masuk pada suasana “pesta” melalui gerakan dan tepuk tangan. Anak-anak yang didampingi orang tua/wali murid merasa enjoy dan betul-betul menikmatinya.

Semakin malam, ada suasana gelap dan temaram yang sengaja dibangun untuk menciptakan suasana hening dan haru. Maka, pelatihan pun sampai pada tahap kontemplasi yang membawa imajinasi anak-anak pada dunia masa silam; mengingat orang tua dan saudara-saudaranya. Secara bertahap, dunia batin anak-anak mulai ditetesi kiat-kiat meraih sukses UN dengan menyadarkan betapa pentingnya doa restu orang tua. Melalui lantunan doa dan pengharapan yang tertata lewat diksi yang menyentuh dan mengharukan, anak-anak diajak untuk mengingat keberadaan orang tua dan saudara-saudaranya.

Ternyata, tahap kontemplasi benar-benar mampu membawa dunia batin anak dalam suasana yang benar-benar mengharukan hingga tak sedikit siswa putri yang menjerit dan berteriak histeris. Ada sekitar 7 siswi yang pingsan. Mereka pun secara bergantian segera digotong ke ruang UKS. Sebenarnya sudah ada anggota dari TIM Esam Training yang siap untuk menangani anak-anak yang shock ketika memasuki tahap kontemplasi ini. Namun, lantaran situasinya malam hari, Tim Esam Training tak bisa menangani anak-anak yang tergolong bermasalah ini secara tuntas. Dalam keadaan tak menentu, anak-anak yang pingsan langsung ditangani oleh warga masyarakat sekitar sekolah dengan menggunakan pendekatan kultural khas masyarakat desa.

Saya yang kebetulan berusaha menyadarkan dua siswi yang tergolong pingsan berat melalui bisikan-bisikan istighfar dan belaian lembut di kepala mereka agaknya bisa memberikan sedikit ruang kesadaran kepada mereka untuk mengembalikan kekuatan dan kesejatian dirinya. Secara perlahan-lahan, anak yang bersangkutan saya bimbing untuk membaca istighfar sebagai wujud permohonan ampunan kepada Allah SWT. Alhamdulillah, mereka perlahan-lahan mulai siuman. Namun, begitu saya tinggal, beberapa menit kemudian, siswi yang bersangkutan kembali menjerit histeris. Suasana pun berubah kacau karena makin banyak orang tua/wali murid yang mengerumuninya, ditambah lagi dengan makin banyaknya siswi yang pingsan. Suasana pelatihan pun sedikit terganggu. Meski demikian, Pak Narto jalan terus dengan tahap-tahap pelatihannya. Sebagian besar siswa pun tetap enjoy dan menikmati tahap demi tahap pelatihan itu hingga usai pukul 23.00 WIB.

Sementara itu, ketika pelatihan usai, masih ada dua siswi bermasalah yang sedang mengalami shock belum juga siuman. Warga masyarakat yang dianggap memiliki kekuatan spiritual berupaya menyadarkannya dengan menggunakan pendekatan tersendiri. Siswi baru siuman sekitar pukul 24.00.

Tiba di rumah, jam di dinding menunjuk pukul 01.00 WIB dini hari. Hmm … tiba-tiba saja saya jadi merenung. Anak-anak yang hendak menghadapi ujian nasional agaknya memang sedang mengalami masa-masa stress. Tekanan dari pihak orang tua, stigma masyarakat, dan bejibunnya tugas-tugas berat yang mesti mereka ikuti, tak jarang membuat mereka mengalami depresi. Dalam situasi seperti itu, dibutuhkan sentuhan kelembutan dan kasih sayang untuk membangkitkan motivasi mereka dengan cara yang normal dan wajar. Besarkan hati mereka agar sanggup menghadapi UN dengan sikap penuh optimisme.

Semoga mereka sanggup melewati masa-masa kritis itu hingga akhirnya mampu meraih sukses seperti yang diharapkan. ***

Dalam rangka melakukan pembinaan minat, bakat, dan kreativitas peserta didik, Direktorat Pembinaan TK dan SD menyelenggarakan penulisan naskah bacaan siswa SD yang berkualitas. Penulisan naskah buku bacaan siswa SD kelas rendah dilaksanakan melalui kegiatan sayembara, bertujuan untuk meningkatkan koleksi buku bacaan untuk siswa SD yang berkualitas dan sesuai dengan taraf perkembangan anak. Dengan tersedianya buku bacaan yang menarik dan berkualitas diharapkan dapat meningkatkan minat dan budaya baca khususnya di kalangan peserta didik.

Kegiatan sayembara penulisan naskah buku bacaan SD kelas rendah juga merupakan wahana bagi semua orang pihak, baik pendidik, tenaga kependidikan, penulis, maupun masyarakat yang peduli pendidikan untuk berkarya, berkreasi, berimajinasi, dan berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Penulisan naskah bacaan SD kelas rendah yang dilaksanakan melalui sayembara bertujuan untuk:

1. Memperkaya bacaan peserta didik SD kelas rendah yang menarik dan bermutu, sehingga meningkatkan minat baca peserta didik.

2. Sebagai wahana untuk berkreasi, berinovasi, berprestasi, dan berkompetisi bagi siapa saja yang peduli terhadap pendidikan melalui penulisan naskah bacaan untuk peserta didik SD.

Tema Sayembara

“Melalui sayembara penulisan naskah bacaan kita tingkatkan budaya gemar membaca dan menulis peserta didik SD kelas rendah.”

Waktu

1. Sosialisasi melalui leaflet, media cetak, dan media elektronik (TV dan internet), Februari-Maret 2009.

2. Penerimaan naskah, April – Juli 2009.

3. Pra seleksi, Agustus – Oktober 2009

4. Penilaian dan pengumuman, Oktober 2009.

Peserta

Peserta sayembara dibuka untuk semua pihak termasuk guru, dosen, siswa/mahasiswa, tenaga kependidikan,serta masyarakat luas.

Tema Naskah

Tema naskah buku bacaan SD kelas rendah dalam sayembara ini dikaitkan dengan mata pelajaran di sekolah dasar, sebagai berikut:

1. Keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia yang berlandaskan ilmu pengetahuan.

2. Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

3. Seni budaya daerah dan nasional.

4. Penanaman nilai-nilai Pancasila.

Materi Naskah

Materi naskah bacaan dapat berupa fiksi atau nonfiksi, mengacu pada muatan lokal atau mata pelajaran di sekolah dasar yaitu:

1. Pendidikan Agama

2. Pendidikan Kewarganegaraan

3. Bahasa Indonesia

4. Matematika

5. Ilmu Pengetahuan Alam

6. Ilmu Pengetahuan Sosial

7. Seni Budaya dan Keterampilan

8. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Naskah bacaan nonfiksi dapat disajikan dalam bentuk eksposisi (pemaparan ilmiah populer) atau narasi (penulisan biografi dan sejarah), serta tokoh, kegiatan, waktu, dan tempat yang dipaparkan sepenuhnya bersifat faktual.

Persyaratan Naskah

1. Isi naskah sesuai dengan tingkat dan taraf perkembangan peserta didik kelas rendah (kelas I, II, dan III SD);

2. Isi naskah tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar Pancasila, UUD 1945, ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku, serta tidak menimbulkan masalah SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan);

3. Bersifat edukatif dan memberikan manfaat untuk menambah pengetahuan, menumbuhkan budaya dan minat membaca dan menulis, mengembangkan keterampilan, membentuk watak dan kepribadian, serta memperluas wawasan;

4. Naskah bacaan harus disertai ilustrasi atau gambar, dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari naskah. Ilustrasi/gambar boleh dibantu orang lain untuk membuatnya.

5. Naskah khusus untuk kelas I dan II berupa cerita bergambar;

6. Naskah merupakan karya asli dan dapat dipertanggungjawabkan (baik isi naskah maupun gambar), bukan saduran, tidak bersambung, dan tidak dalam bentuk berseri;

7. Naskah belum pernah diikutsertakan pada sayembara yang sama atau menjadi pemenang dalam sayembara mana pun, dan belum pernah diterbitkan yang ditunjukkan dengan surat pernyataan penulis.

8. Naskah yang berbentuk biografi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. tokoh yang ditulis adalah warga negara Indonesia yang berprestasi atau berjasa dalam perjuangan dan pembangunan bangsa;

b. didukung dengan metode pengumpulan data yang tepat;

c. data yang ditulis akurat dan benar;

d. melampirkan ijin dari tokoh yang ditulis atau dari ahli warisnya.

9. Naskah diketik komputer 2 spasi di atas kertas A4 (70 atau 80 gram), dengan ketentuan:

a. jumlah halaman 10 – 15 untuk kelas I, 15 – 20 untuk kelas II, dan 20 – 25 untuk kelas III termasuk gambar;

b. Jumlah halaman di atas, tidak termasuk halaman kata pengantar, pendahuluan, daftar

c. isi, daftar pustaka, biodata lengkap, dan surat pernyataan keaslian karya.

d. Jenis huruf arial ukuran 14 – 16 point, untuk naskah yang diharapkan dibaca peserta didik kelas I SD, sedangkan ukuran huruf 14 point untuk naskah yang diharapkan dibaca peserta didik kelas II atau III SD.

e. Gambar pada naskah fiksi membantu pada pemahaman anak, sehingga teks mudah dimengerti. Gambar pada naskah kelas I dan II harus dominan. Pada naskah nonfiksi, gambar sebagai ilustrasi dari penulis harus jelas.

10. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

11. Sumber atau rujukan ditulis dalam daftar pustaka.

12. Naskah yang dikirimkan dibuat dalam bentuk siap cetak (dummy).

13. Identitas naskah/cover/kulit meliputi:

a. judul naskah

b. kelompok naskah : (fiksi atau nonfiksi)

c. menunjang mata pelajaran: ……………………. kelas: ………

d. nama penulis

e. Sayembara Penulisan Naskah Bacaan SD Kelas Rendah Tahun 2009

14. Naskah dilampiri:

a. fotocopy identitas diri (KTP/SIM/identitas lainnya).

b. biodata penulis lengkap, termasuk alamat rumah dan kantor, telepon/HP secara jelas.

c. Surat pernyataan keaslian hasil karya

Pengiriman Naskah

1. Naskah disampaikan langsung atau dikirim melalui pos tercatat paling lambat tanggal 31 Juli 2009 (stempel pos) dengan alamat:

Panitia Sayembara Penulisan Naskah Bacaan SD

Kelas Rendah Tahun 2009

Subdit Pembelajaran

Direktorat Pembinaan TK dan SD

Ditjen Mandikdasmen Depdiknas

Gedung E Lantai 18, Jl. Jend. Sudirman, Senayan

Jakarta 10270

2. Penulis naskah yang lolos praseleksi, akan dipanggil untuk mengikuti seleksi berikutnya pada Oktober 2009.

Penghargaan

Pemenang sayembara penulisan naskah bacaan SD kelas rendah akan menerima penghargaan/hadiah sebagai berikut.

a. Hadiah Pemenang I (10 naskah), masing-masing penulis naskah akan memperoleh hadiah sebesar Rp20.000.000,00

b. Hadiah Pemenang II (10 naskah); masing-masing penulis naskah akan memperoleh hadiah sebesar Rp15.000.000,00

c. Hadiah Pemenang III (10 naskah); masing-masing penulis naskah akan memperoleh hadiah sebesar Rp10.000.000,00

Ketentuan Lain

a. Apabila dikemudian hari diketahui bahwa suatu naskah yang telah ditetapkan sebagai juara ternyata bukan merupakan karya asli peserta, Direktorat Pembinaan TK dan SD berhak membatalkan hasil penilaian.

b. Hasil keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

c. Naskah pemenang sayembara menjadi milik Departemen Pendidikan Nasional.

d. Naskah yang tidak menjadi pemenang, menjadi dokumen Direktorat Pembinaan TK dan SD dan tidak dikembalikan kepada penulisnya.

e. Informasi selengkapnya dapat menghubungi:

Penanggung Jawab Kegiatan

Pengembangan Sistem dan Standar Pengelolaan SD

Subdit Pembelajaran

Direktorat Pembinaan TK dan SD

Gedung E Lantai 18, Depdiknas, Jl. Jenderal

Sudirman, Senayan, Jakarta

Telepon/Fax (021) 5725641, 5725989 atau melalui

internet: http://www.mbs-sd.org

Naskah sayembara selengkapnya, silakan unduh di sini atau di sini!

————
update:
Info terbaru: sayembara penulisan naskah buku pengayaan tahun 2009 yaitu,
1. Hadiah juara pertama Rp.20.000.000,-
Hadiah juara kedua Rp.19.000.000,-
Hadiah juara ketiga Rp.18.000.000,-

2. Masa penerimaan naskah diperpanjang menjadi 15 Juni 2009.

Gadis Manis di Teras Sekolah
Gadis manis di teras sekolah
Bertingkah amat lincah
Kata, tawa, terpecah-pecah
Ulah ramah tamah

Gadis manis di teras sekolah
Ria hati ceria wajah
Daku memandangmu kian tak betah
Ah…!
Mengapa Nona
Daku salah tingkah?
sudut desa paninggaran, 2008

Tuginem Pemetik Kembang Melati
Ginem…..
Bulu alis matamu itu, lentik
Penampilanmu, lembut anggun
Kata ramahmu, lugu
Sungguh kau asli gadis dusun
Yang terselip di kaki gunung paninggaran ini

Ginem….
Duh cantik nian kau!
Melati-melati itupun memujamu
Mereka tak segan menyambutmu datang kemari
Meski akhirnya kaupetik dari tangkainya nanti
Duh, Ginem…!
Sumpah mampus
Akupun ingin jadi melati-melati itu
Memori
Membuka halaman akhir memori itu
Kuingat lagi kamu,
Ning !

sudut desa paninggaran, 2008

TIRAI
Serahut wajah
Bikin hati resah gelisah

Mata berbalas kejap
Bibir berbalas senyum
Namun, ah…..
Gapai
Tak pernah sampai !

KECEWA
Mengapa sampai kautikam
Senandung jantung
Merindukan peluk, Kasih?

Adakah hatimu luruh
Mendengarku mengaduh?

Mengapa sampai kautikam
Senandung jantung
Merindukan cinta, Sayang

Adakah hatimu tega
Melihatku kecewa?
Ah…..!

A S A
Menjalin bayang fatamorgana
Bersesanding denganmu
Mungkinkah itu?

Resah

Ada yang tertinggal di kamarmu
Malam itu
Sebagian hati
Yang tak mampu kubohongi
Cah ayu!

Sulit

Tak ada kata yang bisa kuucapkan
Tak ada kalimat yang bisa kutuliskan
Tak ada lukisan yang bisa kugambarkan
Begitu indah dan membanggakan
Sejuta kenangan yang kini kubawa pulang
Darimu, hai gadis pujaan!

Surat

Lewatmu
Sampaikan salam rinduku
Pada Kekasih

Rindu
Sih!
Di rumah ini
Kutunggu sapa ramahmu

Perjalanan

Kita dibawa laju bis
Gadis
Kau tersenyum manis

Berjam-jam kita tak diam
Dengan tajam
Matamu menukikku dalam

Ah…!
Siapa takkan betah
Menyimak ucap katamu
Bersitingkah ramah?

Perpisahan

Kapan kita kan saling bersua lagi, dara?

Cinta Hitam
(bagi Ning)

Memang akulah yang salah, Ning
Gelas bening yang engkau persiapkan untukku
Tanpa sadar kuremuk pecahkan
Di hadapan ibumu
Sore itu

Padahal
Taukah kau
Sesal menyelimut hati
Kurasakan sampai kini?

Ning….
Sesungguhnya bila pecahan gelas itu dapat kukumpulkan lagi
Dan ada kesediaan tanganmu untuk menerimanya kembali
Ingin kuberikan gelas utuh itu kepadamu
Maukah kamu?

Sudut desa Paninggaran, 2008

ALIS MATAMU ITU
(bagi ERTE)

Alis matamu itu, duh !
Membuat hatiku luruh

Alis matamu itu, duh!
Membuatku tersimpuh
Sungguh!

Sudut desa Paninggaran, 2008

Sinyalemen tentang meredupnya pamor guru sebenarnya sudah lama terdengar, bahkan gaungnya masih sering menggema hingga sekarang. Sosok guru menjadi objek yang gampang mengundang perhatian, tanggapan, dan penilaian tersendiri dari berbagai kalangan. Hal ini sangatlah beralasan, sebab gurulah yang berada di garda depan dalam “barikade” pendidikan sebagai pengajar, pembimbing, pelatih, dan pendidik yang langsung bersentuhan dan bergaul dengan peserta didik sehari-hari di sekolah. Gurulah yang dinilai sangat dominan dalam mewarnai “kanvas” pendidikan. Tidaklah berlebihan jika terjadi sesuatu yang tidak beres dalam gerak dan dinamika pendidikan, orang beramai-ramai menuding guru sebagai biangnya.

Keberadaan guru kalau boleh ditamsilkan seperti lampu bangjo. Kehadirannya sangat penting dan amat dibutuhkan untuk memperlancar arus lalu lintas. Ketika guru mampu menjalankan tugasnya dengan baik, profesional, penuh dedikasi, disiplin, kreatif, inovatif, wibawa, dan mumpuni di bidangnya, orang menganggap hal itu sebagai hal yang biasa, bahkan menjadi sebuah keniscayaan. Ya, memang seharusnya dalam menjalankan tugas-tugas profesinya, guru harus memiliki landasan idealisme semacam itu. Lampu bangjo pun akan diperlakukan seperti itu. Tak seorang pun pengendara yang akan berteriak-teriak ketika lampu bangjo berfungsi dengan baik. Namun, ketika sang guru melakukan penyimpangan dan kesalahan sedikit saja, hal itu dianggap sebagai noda dan “dosa” tak terampuni. Gugatan dan hujatan pun terus mengalir (nyaris) tanpa henti. Hampir sama dengan para pengendara yang berteriak-teriak, bahkan mungkin mengumpat, ketika lampu bangjo mati.

Secara jujur memang harus diakui, apresiasi masyarakat terhadap profesi guru pun mulai berkurang. Pamor guru makin meredup di tengah atmosfer peradaban yang gila dan kacau. Gurulah yang harus menanggung beban ketika mutu pendidikan merosot, meruyaknya perkelahian antarpelajar, merajalelanya dekadensi moral dan involusi budaya, atau kian keringnya aplikasi nilai-nilai kesalehan hidup di atas panggung kehidupan sosial.

images-guru.jpgPersoalannya sekarang, mengapa pamor guru meredup? Mengapa sosok yang selalu disanjung puji dan dielu-elukan lewat lirik “Hymne Guru” –yang benar diciptakan oleh Sartono atau T. Prawit, ya? Mungkin pakar “telematika” kita siap untuk membuktikan “kesaktian”-nya lagi? :mrgreen: –bagaikan “pelita dalam kegelapan” itu seakan-akan sudah tak berdaya lagi menghadapi arus budaya global yang demikian dahsyat menggerus nilai-nilai luhur hakiki? Mengapa guru tidak lagi menjadi profesi yang membanggakan, bahkan konon guru hanya tinggal menunggu saat-saat kematiannya? Bisa jadi masih ada setumpuk tanda tanya yang bisa ditimbun untuk mempertanyakan keberadaan guru yang makin tersisih oleh dinamika dan hiruk-pikuk zaman.

Banyak fakta yang bisa diungkap untuk menggambarkan bahwa saat ini profesi guru benar-benar tengah mengalami degradasi nilai yang cukup serius. Kasus guru disatroni muridnya saat pembagian rapor atau pengumuman kelulusan, stigma guru sebagai pembual dan penjual kecap di kelas, atau kasus guru nyambi yang menelantarkan murid-muridnya, merupakan deret keprihatinan yang layak direnungkan dan dicari penyebabnya, sehingga bisa ditemukan solusinya. Jika kondisi semacam itu terus dibiarkan, jelas sangat tidak menguntungkan bagi citra dan kredibilitas guru sebagai figur yang dijuluki sebagai “pahlawan butuh tanpa tanda jasa” itu.

Dalam penafsiran awam saya –yang kebetulan berprofesi sebagai guru *halah, masak jeruk makan jeruk, hehehehe :D * — ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab meredupnya pamor guru. Pertama, terjadinya pergeseran nilai, etika, moral, dan budaya akibat kuatnya arus modernisasi dan globalisasi yang melanda masyarakat kita. Tayangan film yang mengintrodusir adegan-adegan kekerasan, brutal, sadis, dan berbau porno, baik melalui tayangan TV maupun media hiburan yang lain, setidak-tidaknya telah ikut memicu munculnya sikap agresif, sadis, dan brutal, kering dari sentuhan nilai kemanusiaan dan kearifan dalam kepribadian pelajar kita. Imbasnya, mereka tidak peduli lagi batas-batas kesopanan, kesusilaan, dan tata krama, sehingga berakibat pada menurunnya rasa hormat terhadap guru mereka sendiri.

Kedua, mulai tumbuhnya sikap permisif (serba boleh) di sebagian besar masyarakat kita terhadap segala macam bentuk perilaku kejahatan, amoral, dan anomali sosial. Kasus-kasus semacam penodongan, perampokan, pemerkosaan, korupsi, manipulasi, dan “antek-antek”-nya dinilai sebagai kasus yang wajar terjadi di tengah peradaban gila dan kacau ini. Akibatnya, masyarakat yang diharapkan dapat menjadi kekuatan kontrol terhadap segala perilaku menyimpang menjadi lemah. Masyarakat hanya sekadar melimpahkan tanggung jawabnya kepada pihak yang berwenang saja. Demikian juga masyakarat kita dalam memandang perilaku menyimpang yang melanda pelajar kita. Masyarakat kita *yang pasti tidak semuanya demikian lho, ya* telah menganggap sebagai hal yang galib terjadi jika seorang pelajar merokok atau tidak hormat lagi kepada guru atau orang tua.

Ketiga, masih kuatnya anggapan bahwa guru adalah pribadi yang harus selalu tampil perfeksionis, tanpa cacat dan cela, berbudi luhur dan mulia bagaikan seorang resi yang hidup di sebuah institusi pertapaan tempoe doeloe yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kepentingan kemanusiaan tanpa pamrih. Anggapan semacam itu justru menjadi “bumerang” bagi guru itu sendiri. Mereka jadi serba salah dalam bersikap dan bertingkah laku, sempit ruang geraknya, dan setiap sepak terjangnya selalu berada dalam bingkai sorotan dan pengawasan dari berbagai pihak.

Keempat, guru dinilai telah gagal menanamkan dan mengakarkan nilai-nilai luhur dan budi pekerti dalam jiwa siswa didik di sekolah sehingga menjadi brutal dan tak bermoral. Gurulah yang dinilai paling bertanggung jawab terhadap kegagalan itu. Penilaian semacam itu jelas akan menggiring publik luas pada opini bahwa guru bukan lagi sebagai profesi luhur yang senantiasa menjadikan dedikasi, loyalitas, dan berjuang tanpa pamrih sebagai basis pengabdiannya.

Kelima, memudarnya wibawa guru di mata peserta didik. Banyak pengamat menyatakan bahwa wibawa guru merupakan kata kunci untuk melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Pernyataan semacam itu jelas masuk akal sebab jika wibawa guru hilang, mustahil segala macam bentuk penanaman dan pengakaran nilai-nilai yang berlandas tumpu pada ajaran-ajaran luhur dan suci bisa diwujudkan secara riil oleh peserta didik.

Dan keenam, tingkat kesejahteraan guru yang dinilai masih timpang jika dibandingkan dengan beratnya beban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Alasan klasik inilah yang konon menjadi pemicu banyak guru yang nyambi di luar profesinya untuk menambah penghasilan. Akibatnya, proses belajar-mengajar jadi kacau dan tersendat-sendat, siswa didik berada dalam kondisi tidak siap belajar, hancur pula pamor sang guru.

Mengingat keberadaan guru begitu penting dan dibutuhkan dalam dunia pendidikan, maka sikap dan tindakan bijak dari berbagai pihak sangat diperlukan dalam menyikapi meredupnya pamor guru. Di pundak gurulah nasib anak-anak bangsa negeri ini dipertaruhkan. Jangan biarkan kondisi yang tidak kondusif menelikung tugas dan profesi guru. Orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, dan pemerintah yang dikenal sebagai pilar penyangga roda pendidikan, harus bersinergi, saling introspeksi, dan senantiasa memiliki “kemauan baik” untuk mengangkat pamor guru.

Paling tidak, ada empat agenda penting dan mendesak untuk menyelamatkan pamor guru agar mampu menjalankan kiprahnya sebagai “pencerah” peradaban. Pertama, perlu tindakan tegas terhadap berbagai media hiburan yang menafikan dan menihilkan sisi edukatif sehingga meracuni jiwa dan kepribadian pelajar kita. Tentu saja dengan cara yang arif dan persuasif, tidak dengan cara mengangkat pedang dan brutal yang tidak jauh berbeda dari cara-cara preman. Nihilnya hiburan-hiburan yang menyesatkan, paling tidak, sudah mampu ikut berkiprah membantu guru dalam menanamkan dan mengakarkan berbagai macam nilai kepada siswa didik.

Kedua, masyarakat harus mampu menjadi kekuatan kontrol terhadap segala macam bentuk tindak kejahatan dan tingkah amoral lainnya, termasuk kenakalan remaja. Hal ini sangat penting dan urgen untuk direalisasikan dalam tataran praksis, sebab anak yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang sarat dengan tindak kejahatan, mereka juga akan belajar jadi penjahat.

Ketiga, perlu diciptakan sebuah imaji atau citra bahwa guru adalah manusia biasa yang tidak bisa luput dari khilaf dan dosa. Citra semacam itu justru akan mampu menumbuhkan sikap guru yang manjing-ajur-ajer, adaptif, mengabdi tanpa beban, dan merasa dimanusiawikan. Dus, tak perlu lagi dicitrakan sebagai sosok perfeksionis yang pantang berbuat salah. Ini tidak lantas berarti bahwa guru mesti ditolerir ketika melakukan kesalahan yang melawan hukum.

Keempat, pemerintah mesti benar-benar serius dan menepati janjinya yang telah memiliki “kemauan politik” untuk meningkatkan kesejahteraan guru seperti yang tertuang dalam UU No. 14 /2005 tentang Guru dan Dosen. Pemerintah tidak boleh setengah hati, apalagi menyiasatinya dengan Ujian Sertifikasi Guru yang pada kenyataannya justru menimbulkan masalah baru, bukan solusi jitu untuk menaikkan kesejahteraan guru.

Jika keempat agenda tersebut bisa diwujudkan dan diimplementasikan secara nyata, saya kira profesi guru yang selama ini telah terpuruk dan marginal di tengah kompleksnya tantangan peradaban akan kembali bangkit dan bersinar menerangi kegelapan. Nah, bagaimana? Mungkin ada pendapat lain? ***

Dalam rangka memberikan kesempatan berkreasi dan mengembangkan potensi siswa SMP di bidang sastra, Direktorat Pembinaan SMP menyelenggarakan kegiatan lomba cipta puisi dan cerpen Tahun 2009. Event tersebut diharapkan mampu menjembatani berbagai kegiatan seni, khususnya sastra, serta mampu mengangkat potensi yang dimiliki siswa sehingga dapat memberikan prestasi dan kebanggaan bagi dunia pendidikan pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Adapun tujuan diselenggarakannya lomba tersebut, antara lain: (1) menggali dan mengakomodasi kreativitas siswa SMP/MTs dalam menciptakan puisi dan cerpen; (2) memberikan dorongan kepadsa para siswa SMP/MTs dalam upaya pembinaan dan penyaluran bakat seni, khususnya puisi dan cerpen di kalangan pelajar; dan (3) meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan, rasa cinta tanah air, dan saling menghargai antarsesama pelajar.

Lomba tersebut dilaksanakan secara berjenjang, mulai tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, hingga nasional, dengan ketentuan sebagai berikut:

A. Lomba Cipta Puisi Balada

1.   Tema:

Tema lomba cipta puisi balada adalah terbuka/bebas, bergantung pada kebijakan panitia di setiap daerah/tingkat lomba.

2. Persyaratan Tulisan

Persyaratan tulisan yang diajukan peserta lomba cipta puisi balada adalah:

a.     Ditulis dalam bahasa Indonesia;

b.     Isi tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 serta sesuai dengan tata nilai dan norma kehidupan dalam masyarakat;

c.      Asli, bukan terjemahan/saduran, belum pernah dilombakan/dipublikasikan;

d.     Diketik rapi dalam kertas HVS ukuran kuarto/A4 dengan jarak baris 1,5 spasi sebanyak 1-2 halaman;

e.      Sampul karangan: cap sekolah, tanda tangan kepala sekolah yang bersangkutan; sekolah boleh mengirimkan tiga karangan terbaik;

f.       Sesuai dengan jadwal yang ditetapkan panitia.

3.   Mekanisme

Lomba cipta puisi balada dilaksanakan secara berjenjang: tingkat sekolah => kabupaten/kota => provinsi => nasional dengan tetenuan sebagai berikut:

a.     Panitia menetapkan tema/topik lomba untuk setiap jenjang/tingkat;

b.     Panitia menetapkan pemenang/peserta terbaik untuk diikutkan pada jenjang berikutnya;

c.      Panitia tingkat sekolah memberitahukan sebelumnya tema lomba kepada peserta lomba;

d.     Panitia tingkat kabupaten/kota dan provinsi diberi kebebasan apakah tema lomba diberitahukan sebelumnya atau tidak kepada peserta, bergantung pada situasi dan kondisi setempat.

Catatan:

Jika lomba diberitahukan secara mendadak pada saat pelaksanaan lomba, peserta diminta membuat puisi (dengan tulis tangan) sesuai dengan tema, waktu, dan tempat yang ditetapkan.

e.      Panitia tingkat nasional memberitahukan tema lomba kepada peserta pada saat pelaksanaan lomba (mendadak), kemudian peserta membuat puisi (dengan tulis tangan) dalam waktu, dan tempat yang ditetapkan (alam terbuka);

f.       Panitia membentuk dewan juri di semua tingkat untuk menilai dan menetapkan juara/peserta terbaik, dengan persyaratan:

1) Mampu dan menguasai bidang yang dilombakan;

2) Dapat berlaku adil (tidak memihak kepada siapa pun);

3) Bersedia melaksanakan tugas sesuai jadal lomba;

4) Bersedia memberikan hasil penilaian/penjurian yang dilakukan.

g.     Panitia menerbitkan surat keputusan (SK) pemenang lomba sesuai dengan berita acara yang ditetapkan oleh dewan juri.

4. Penilaian

Penilaian hasil lomba puisi balada dilakukan dari segi kesesuaian dengan tema, pemakaian bahasa, sarana retorika, isi/makna, dan kreativitas dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

a.     Kesesuaian dengan tema

Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian aspek kesesuaian dengan tema, antara lain:

-         kesesuaian isi dengan judul;

-         kesesuaian isi dengan tema/topik yang ditetapkan oleh panitia.

b.     Pemakaian bahasa

Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian aspek pemakaian bahasa, antara lain:

-         ketepatan pemilihan kata, rima, ungkapan, dan kalimta;

-         kegunaan pemilihan kata dan kalimat dalam perwujudan gagasan dan pengembangan imajinasi.

c.      Sarana retorika

Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian aspek retorika, antara lain:

-         kekuatan menghidupkan imajinasi (citraan, bayangan) melalui pemakaian bahasa;

-         kesesuaian dan ketepatan pemakaian majas (metafora) atau makna spesifik yang mempunyai daya bayang bagi pembaca.

d.     Isi/makna

Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian aspek isi/makna, antara lain:

-         kesesuaian gagasan dengan tema;

-         kewajaran pengembangan gagasan;

-         nilai-nilai kehidupan/budaya.

e.      Kreativitas

Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian aspek kreativitas, antara lain:

-         gagasan baru (khas) dan cara pengungkapan gagasan yang dikemukakan;

-         bentuk (tipografi) dan aspek lain yang memperlihatkan adanya inovasi.

LAMPIRAN:

LEMBAR PENILAIAN

LOMBA CIPTA PUISI SISWA SMP TAHUN 2009

No.

Aspek yang Dinilai

Nilai 10-100

Bobot

Jumlah

1

Isi

3

2

Bahasa

3

3

Daya puitis

2

4

Penyajian

2

Total

Catatan: …………………. 2009Penilai

B. Lomba Cipta Cerpen Berbahasa Indonesia

1.   Tema:

Tema lomba cipta cerpen muatan lokal ini berkisar pada kehidupan bermasyarakat yang mengungkapkan dan mempercakapkan nilai-nilai kehidupan tradisional (muatan lokal), seperti mitologi, legenda, fabel, kepercayaan, serta adat-istiadat daerah/etnik setempat dengan “sentuhan baru” atau teknik penyajian yang khas.

2. Persyaratan Tulisan/Karangan

Persyaratan tulisan yang diajukan peserta lomba cipta cerpen muatan lokal adalah:

a.     Cerpen ditulis dalam bahasa Indonesia;

b.     Cerpen harus asli, bukan terjemahan/saduran, belum pernah dilombakan/dipublikasikan;

c.      Isi cerpen sesuai dengan tata nilai agama dan norma kehidupan dalam masyarakat;

d.     Cerpen ditulis rapi dalam kertas bergaris sebanyak 1.000-1.200 kata atau 5-6 halaman;

e.      Cerpen ditulis saat lomba berlangsung di setiap jenjang lomba.

f.       Sampul depan diberi identitas seperti Lampiran I.

3.   Juri

a.     Lomba Tingkat Sekolah:

Dewan juri lomba tingkat sekolah terdiri atas tiga orang guru bahasa sekolah yang bersangkutan atau sekolah lain.

b.     Lomba Tingkat Kabupaten

Untuk lomba tingkat kabupaten/kota, dewan juri terdiri atas 3 atau 5 orang. Anggota dewan juri terdiri atas pengawas/instruktur, guru, atau person yang kompeten.

Syarat-syarat anggota dewan juri lomba tingkat kabupaten/kota adalah sebagai berikut:

1)      Minimal sarjana pendidikan bahasa atau praktisi yang kompeten;

2)    Pernah menjadi juri lomba sekurang-kurangnya pada tingkat rayon;

3)     Mampu bersikap adil (independen).

c.      Lomba Tingkat Provinsi

Untuk lomba tingkat provinsi, dewan juri terdiri atas 3 atau 5 orang. Anggota dewan juri terdiri atas pengawas/instruktur, guru, dosen, atau person yang kompeten.

Syarat-syarat anggota dewan juri lomba tingkat provinsi adalah sebagai berikut:

1)      Minimal sarjana pendidikan bahasa atau praktisi yang kompeten;

2)    Pernah mengajar mata pelajaran bahasa;

3)     Pernah menjadi juri lomba sekurang-kurangnya pada tingkat kabupaten/kota;

4)    Mampu bersikap adil (independen).

d.     Lomba Tingkat Nasional

Untuk lomba tingkat nasional, dewan juri babak kualifikasi terdiri atas tiga orang, yaitu 1 pengawas/instruktur, 1 dosen, dan 1 praktisi yang kompeten. Untuk babak final, dewan juri terdiri atas 5 orang, yaitu pengawas/instruktur, 2 dosen, dan 2 praktisi yang kompeten.

Syarat-syarat anggota dewan juri lomba tingkat nasional adalah sebagai berikut:

1)      Minimal sarjana pendidikan bahasa atau praktisi yang kompeten;

2)    Pernah mengajar bahasa;

3)     Pernah menjadi juri lomba sekurang-kurangnya pada tingkat provinsi;

4)    Mampu bersikap adil (independen).

4. Penilaian

Penilaian hasil lomba cipta cerpen dilakukan dari segi tokoh/penokohan, alur, latar, bahasa, isi, kreativitas, serta kesesuaian isi dengan tema yang sudah ditetapkan (lihat Lampiran II).

LAMPIRAN II

Sampul Depan Karangan

Sampul depan karangan memuat:

1.      judul cerpen;

2.     nama siswa;

3.     jenis kelamin;

4.     tempat dan tanggal lahir;

5.     kelas;

6.     sekolah;

7.     alamat sekolah, kode pos, dan telepon;

8.     alamat rumah, kode pos, dan telepon.

LAMPIRAN II

LEMBAR PENILAIAN

LOMBA CIPTA CERPEN BERBAHASA INDONESIA

SISA SMP TAHUN 2009

No.

Aspek yang Dinilai

Nilai 10-100

Bobot

Jumlah

1

Kesesuaian isi dengan tema

1

2

Tokoh/penokohan

1

3

Alur

1

4

Latar

1

5

Bahasa

2

6

Isi

1

7

Kreativitas

3

Total

Catatan: …………………. 2009Penilai

Catatan:
Berdasarkan rapat koordinasi pada hari Rabu, 15 April 2009, khusus pelaksanaan lomba cipta puisi dan cerpen untuk tingkat Kab. Kendal, terdapat beberapa ketentuan tambahan sebagai berikut:

  1. Setiap sekolah mengirimkan satu peserta (putra atau putri) untuk lomba cipta puisi dan cerpen.
  2. Naskah lomba, baik cipta puisi maupun cerpen, dibuat di tempat lomba pada kertas folio bergaris.
  3. Lomba cipta puisi dan cerpen berlangsung di SMP 1 Kendal, 23 April 2009 (pukul 07.30 s.d. selesai).
  4. Penilaian lomba akan dilakukan dewan juri berdasarkan naskah tertulis dan wawancara di tempat lomba.
  5. Penghargaan pemenang:
  • Pemenang I berhak mewakili Kab. Kendal di tingkat provinsi.
  • Pemenang I, II, dan III, berhak mendapatkan piala dan sertifikat.
  • Pemenang harapan I dan II berhak mendapatkan sertifikat.
  • Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Admin

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.